Hi, seperti yang saya janjikan pada postingan sebelumnya Surat Kabar Poetri Hindia Part 1, pemaparan mengenai sejarah Poetri Hindia akan dilanjutkan pada Surat Kabar Poetri Hindia Part 2 ini. Tulisan berikut ini akan membahas mengenai bagaimana situasi umum kehidupan pers dan perempuan pada awal abad ke-20, menjelang berdirinya surat kabar Poetri Hindia.

Kehidupan Pers Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20 sejarah pers pribumi memasuki babak baru. Hal itu diperlihatkan dengan munculnya editor pribumi, sejumlah percetakan pribumi, dan pers milik pribumi yang berbicara mengenai kepentingan pribumi (Adam, 2003: 183). Oleh karena itu, awal abad ke-20 juga bisa disebut sebagai masa awal kebangkitan pers pribumi.

Kebangkitan pers pribumi muncul karena adanya kesadaran untuk maju di kalangan pribumi. Kesadaran ini tumbuh disebabkan banyak faktor yang terjadi pada masa sebelumnya. Salah satu di antaranya perkembangan teknologi dalam bidang telekomunikasi dan transportasi yang terjadi di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Dalam bidang teknologi telekomunikasi mulai diperkenalkan perangkat komunikasi yang telah dikembangkan seperti telepon. Dalam bidang transportasi, perkembangan teknologi kapal laut dan kereta api memungkinkan orang dapat bepergian dengan penggunaan waktu dan tenaga yang lebih efisien. Fenomena ini dianggap sebagai barometer kemajuan oleh sekelompok pribumi terpelajar di Hindia Belanda (Adam, 2003: 183).

Faktor lain yang menjadi pendorong tumbuhnya kesadaran orang-orang pribumi terpelajar untuk maju adalah peningkatan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang dicapai bangsa Eropa dan Tionghoa peranakan di Hindia Belanda. Peningkatan kehidupan yang dicapai oleh bangsa Eropa dan Tionghoa secara material menjadi bukti nyata kesuksesan yang dibawa oleh kemajuan. Kemajuan sendiri berarti peningkatan status sosial seseorang baik secara individu maupun kelompok dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik.  Kemajuan juga dapat diartikan dengan adanya perbaikan pendidikan, pencerahan, peradaban, modernisasi, dan keberhasilan dalam hidup. Seseorang dapat dikatakan telah mengalami kemajuan ketika ia tidak lagi dipandang inferior, terutama oleh bangsa lain (Adam, 2003: 136).

Keberhasilan orang Tionghoa mencapai kemajuan dalam bidang pendidikan dan ekonomi melalui pers pada akhir abad ke-19 membawa pengaruh terhadap perubahan kaum pribumi (Adam, 2003: 136; Toer, 2003: 164). Perubahan yang terjadi pada orang Tionghoa ini menginspirasi kaum pribumi untuk bergerak memperjuangkan kemajuan pribumi. Hal ini kemudian dipahami oleh pribumi terpelajar dan mendorong mereka untuk mencapai kemajuan.

Pencarian jalan mencapai kemajuan pribumi pada akhirnya dipahami orang-orang pribumi terpelajar dengan jalan perbaikan pendidikan, pencerahan, dan modernisasi bagi kaum pribumi. Tokoh gerakan kemajuan bagi kaum pribumi – seperti Tirto Adhi Soerjo dan Abdul Rivai[1] – pada masa itu memberi motivasi kepada orang-orang pribumi untuk bergerak mencontoh pada pergerakan orang Tionghoa yang lebih dahulu telah berhasil dalam menghimpun kekuatan kelompoknya melalui pers (Adam, 2003: 180).

Pada momentum inilah pers dipergunakan fungsinya oleh orang-orang pribumi terpelajar sebagai salah satu wadah perjuangan kemajuan; sebagai alat perubahan sosial dan pembaharuan masyarakat serta membantu mempercepat proses peralihan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Pers yang ada pada saat itu berfungsi sebagai penyebar gagasan kemajuan bagi orang-orang pribumi dan sebagai alat praktis pendidikan. Topik pemberitaan mengenai kemajuan pada masa itu menjadi bahasan yang mendominasi isi surat kabar (Adam, 2003: 177).

Tirto Adhi Soerjo dan Abdul Rivai merupakan tokoh penting dalam perkembangan pers pribumi pada masa ini. Tentu saja dengan tidak bermaksud mengabaikan peranan tokoh-tokoh lain yang ikut berperan pada masa ini. Namun, kedua tokoh inilah yang pertama-tama melahirkan ide-ide baru untuk kemajuan orang-orang pribumi melalui pers (Adam, 2003: 174-177).

Abdul Rivai melalui majalah Bintang Hindia menyuarakan pemikirannya mengenai perlunya perubahan dalam cara hidup orang-orang pribumi ke cara hidup yang modern. Melalui tulisannya ia merangsang bibit-bibit keinginan hidup lebih baik dan maju di kalangan orang-orang pribumi untuk terus tumbuh. Abdul Rivai menghimbau orang-orang pribumi untuk mengejar kemajuan yang telah diraih oleh bangsa Eropa dan Tionghoa (Adam, 2003: 176).

Pada tulisan Abdul Rivai yang dimuat pada Bintang Hindia edisi no. 3 tahun 1902, terungkap bahwa terdapat perbedaan yang mencolok antara orang-orang Hindia dengan orang-orang Eropa. Perbedaan itu sangat jauh seperti perbedaan langit dan bumi. Di Eropa terdapat dua jenis bangsawan, yaitu bangsawan oesoel, dan bangsawan pikiran. Bangsawan oesoel adalah status kebangsawanan yang didapat dari keturunan. Walaupun si pemilik status bangsawan itu bukan orang berpendidikan dan pintar maka tetap ia mendapatkan status kebangsawanannya, sedangkan bangsawan pikiran adalah status kebangsawanan yang diperoleh seseorang karena orang tersebut memiliki pengetahuan yang tinggi dan pintar (Adam, 2003: 174-177).

Status bangsawan pikiran bisa diperoleh oleh semua orang. Dengan cara belajar dan mempelajari pemikiran dan pendapat orang yang berilmu serta mempelajari segala hal yang harus diketahui orang terpelajar. Istilah bangsawan pikiran ini pada akhirnya menjadi populer dan menjadi slogan dalam gerakan kemajuan dan modernisasi di Hindia Belanda (Adam, 2003: 175-176). Melalui tulisan tersebut Abdul Rivai seakan sedang menunjukkan jalan terang dan membakar semangat bangsa pribumi untuk bergerak meraih kemajuan dan modernitas.

Pada tulisan yang lainnya Abdul Rivai mendorong orang-orang pribumi – sekaligus mendorong para pembaca Tionghoa agar mendukung majalahnya- mengikuti kemajuan yang tengah diusahakan oleh bangsa Tionghoa. Dalam tulisannya ia menyebutkan bahwa bangsa Cina di Hindia Belanda sekarang sudah terbagi dua, yaitu kaum muda dan kaum tua. Kedua kaum tersebut masing-masing sedang berusaha mengembangkan pemikiran dan ide-idenya. Tulisan-tulisan Rivai melalui pers ini tentu sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesadaran untuk meraih kemajuan di kalangan orang-orang pribumi. Terbukti dengan berkembangnya istilah kaum muda dan bangsawan pikiran menjadi slogan yang populer di dunia pers dan perjuangan kemajuan bangsa pribumi pada masa selanjutnya. Selain itu, melalui Bintang Hindia pada 1905 Rivai juga mendorong orang-orang pribumi mendirikan sebuah organisasi yang mempunyai ketua, sekretaris satu, asisten sekretaris, dan bendahara (Adam, 2003: 177).

Kehidupan Perempuan Awal Abad ke-20

Gambaran kehidupan perempuan dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dapat ditelusuri melalui buku Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda karya Tineke Hellwig. Dalam bukunya Tineke Hellwig menampilkan sosok perempuan dari dua golongan yang berbeda: perempuan pribumi dan indo dalam kehidupan perkawinan di Hindia Belanda. Walaupun buku ini menggambarkan perempuan dari karya sastra, tetapi bisa dianggap menggambarkan kenyataan yang ada – jiwa zaman – dalam kehidupan masyarakat. Dari sejumlah cerita yang di bahas Hellwig dalam bukunya sebagian perempuan yang dianggap bahagia dengan kehidupan perkawinannya. Seperti pada cerita Nyai Dasima dan Sarinten yang bahagia dalam hubungan mereka dengan Edward Williams dan Adriaan Malheure. Kedua perempuan tersebut menjadi ‘nyai’ dengan kemauannya sendiri. Dalam cerita Nyai Paina lain kasusnya karena ia dipaksa untuk menjadi Nyai seorang laki-laki Belanda yang pemabuk dan kasar. Sebagai bentuk penolakannya untuk dijadikan Nyai, Nyai Paina menularkan penyakit cacar kepada laki-laki tersebut (Hellwig, 2007: 103-104).

Dari sejumlah cerita tersebut terlihat bahwa “hubungan kolonial dalam masyarakat Hindia menyebabkan suatu perasaan tidak puas dan memerlukan penyesuaian”. Hal ini disebabkan oleh kekuasaan kolonial yang diidentifikasikan dengan laki-laki kulit putih. Oleh karena itu, perempuan baik dari kalangan Eropa, terlebih dari kalangan indo dan pribumi menduduki tempat yang lebih rendah (Hellwig, 2007: 108).

Menurut Stuers (2008: 13) kehidupan sosial kaum perempuan di Hindia Belanda secara umum diatur oleh tradisi yang berasal dari dua sumber yaitu; sistem adat dan hukum agama. Pada kenyataannya penduduk Hindia Belanda sangat heterogen – terdiri dari berbagai suku bangsa – dan sistem adat yang di masing-masing daerah berbeda. Dalam kemajemukan tersebut terdapat tiga karakteristik utama dalam sistem adat yang digunakan di Hindia Belanda yaitu sistem patrilineal[2], bilineal[3], dan matrilineal[4] (Stuers, 2008: 45).

Dalam kehidupan perkawinan masyarakat di Hindia Belanda dikenal tradisi poligami. Poligami yang membudaya di kalangan priyayi pribumi untuk sebagian penulis seperti Stuers, adalah disebabkan oleh agama Islam yang dianut oleh kebanyakan priyayi di Jawa. Namun, dikarenakan tradisi yang berlaku di Hindia Belanda berbeda-beda – misalnya antara tradisi patriarki di Jawa dengan matrilineal di Minang – dan pengetahuan kaum perempuan terhadap agama Islam khususnya poligami sangat minim. Penyikapan mereka terhadap poligami juga berbeda. Sebagian kaum perempuan pribumi ada yang menerima dengan pasrah. Sebaliknya ada pula sebagian kaum pribumi yang menentang tradisi poligami tersebut (Hellwig, 2007: 107).

Dalam menyikapi poligami kaum perempuan yang menerima poligami landasan pikirannya adalah kewajiban kaum perempuan taat kepada suami dan kepada orang tuanya seperti yang diajarkan agama Islam. Mereka biasanya pasrah dan menerima kondisi seperti itu karena alasan ajaran agama Islam, tidak memberikan perlawanan atau perjuangan untuk melepaskan diri dari tradisi poligami (Stuers, 2008: 67-68).

Adapun kaum perempuan yang menentang tradisi poligami, mereka biasanya merupakan kaum perempuan yang sudah terpengaruh ide-ide baru yang mereka peroleh melalui cerita-cerita kehidupan perempuan di luar Hindia Belanda (Stuers, 2008: 67-68). Dalam cerita-cerita tersebut digambarkan kehidupan perempuan menderita karena praktik poligami dan perlakuan sewenang-wenang dari kaum laki-laki terhadap perempuan. Cerita-cerita tersebut seolah mewakili isi hati dan kondisi yang dialami mereka. Dengan menampilkan cerita tersebut di dalam surat kabar kaum perempuan ini mulai menentang tradisi poligami dengan cara halus. Dengan landasan berpikir bahwa kaum perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama (Hellwig, 2007: 107).

Kehidupan kaum perempuan pada awal abad ke-20 sedang mengalami perubahan. Terdapat usaha-usaha dari bangsa pribumi terpelajar untuk memajukan kehidupan kaum perempuan melalui pendidikan. Namun, ketersediaan sekolah untuk perempuan masih terbatas, bahkan cenderung belum ada kesempatan kaum perempuan mendapatkan pendidikan melalui sekolah. Pemikiran masyarakat mengenai kehidupan kaum perempuan yang masih dikonsepsikan hanya seputar dapur, sumur, kasur mempengaruhi kondisi keterbatasan kesempatan kaum perempuan mendapatkan pendidikan (Sukri dan Ridin Sofwan, 2001: 7). Di sini terlihat tradisi dan kebijakan pemerintah kolonial tidak mendukung penyelenggaran pendidikan bagi kaum perempuan.

Pada masa ini kaum perempuan yang mendapatkan pendidikan memang masih terbatas pada perempuan dari golongan bangsawan, itu pun hanya beberapa orang perempuan. Kesadaran berpikir untuk memajukan kehidupan kaum perempuan mendorong mereka membagi pengetahuan kepada kaum perempuan lainnya. Pada masa ini dikenal tokoh-tokoh perempuan seperti Lasminingrat dari Garut, Dewi Sartika dari Bandung, dan Kartini dari Jepara (Moriyama, 2005: 201).

Tokoh-tokoh perempuan ini dengan dukungan dari lingkungannya memulai usaha-usaha untuk memajukan kaum perempuan. Lasminingrat mendapatkan pendidikan Eropa dari keluarga Eropa teman ayahnya di Sumedang. Ia pandai berbahasa Belanda dan pada akhir abad ke-19 sudah mengalami terobosan menulis buku cerita dengan bahasa Sunda – suatu hal yang luar biasa pada zamannya – (Moriyama, 2005: 243-246). Lasminingrat sampai saat ini bisa disebut generasi perempuan pertama yang mengalami kemajuan dan menularkan kemajuan yang dialaminya kepada bangsa pribumi lain melalui buku. Kemudian Dewi Sartika, ia adalah perempuan pertama yang menyelenggarakan pendidikan bagi kaum perempuan pribumi. Pada tahun 1904 Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri, sebuah sekolah khusus kaum perempuan. Adapun Kartini menyuarakan ide-ide kemajuan bagi kaum perempuan melalui surat-suratnya (Toer, 2003: 120).

bersambung ke Part 3 Terbitnya Surat Kabar Poetri Hindia

Footnote:

[1] Abdul Rivai adalah seorang pribumi terpelajar keturunan Melayu yang lahir di Palembang pada 13 Agustus 1871. Ia lulusan sekolah dokter jawa yang kemudian menjadi dokter pribumi pertama. Abdul Rivai juga bekerja sebagai pempinan redaksi – bersama H.C.C Clockener Brounsson – dan editor majalah Bintang Hindia. Menurut Ahmad Adam, Bintang Hindia merupakan pers pertama yang mempelopori kesadaran nasionalisme Indonesia dengan tokoh kuncinya yaitu Abdul Rivai (Adam, 2003: 174-177).

[2] Patrilineal adalah suatu prinsip keturunan yang menghitung hubungan kekerabatan melalui garis laki-laki saja, sehingga bagi seorang individu semua kaum kerabat ayahnya dianggap sebagai anggota kelompok kekerabatannya, sedangkan kaum kerabat ibunya berada di luar kelompok kekerabatannya. Dalam pewarisan, yang berhak memperoleh harta warisan hanya anak laki-lakinya saja, sedangkan anak perempuan akan mendapat warisan melalui keluarga suaminya (Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 12, 1990).

[3] Bilineal adalah prinsip keturunan yang menghitung hubungan kekerabatan melalui laki-laki saja untuk sejumlah hak dan kewajiban tertentu, dan melalui perempuan saja untuk sejumlah hak-hak dan kewajiban yang lain. Prinsip keturunan seperti ini mengakibatkan keadaan yang berat sebelah dalam masyarakat. Misalnya semua kaum kerabat ayah seorang individu masuk ke dalam batas hubungan kekerabatannya, sedangkan kaum kerabat ibunya jatuhnya di luar batas itu, dan sebaliknya (Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 3, 1990).

[4] Matrilineal adalah suatu prinsip keturunan yang menghitung hubungan kekerabatan melalui garis ibu. Berdasarkan prinsip ini, kaum kerabat ibu dianggap sebagai anggota kelompok kerabat, sedangkan kaum kerabat ayah berada di luar kelompok kerabat. Dalam hal pewarisan, yang berhak menjadi ahli waris hanya anak perempuan saja (Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 10, 1990 ).

Sumber Buku:

Adam, Ahmat. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913. Jakarta: Hasta Mitra.

Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 12, 1990. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.

Hellwig, Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Maters, Mirjam. 2003. Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras, Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan 1906-1942. Jakarta: Hasta Mitra.

Moriyama, Mikihiro. 2003. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Steurs, Cora Vreede-De. 2008. Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu.

Sukri, Sri Suhandjati & Ridin Sofwan. 2001. Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. cet.2. Sang Pemula. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.

News Reporter

2 thoughts on “Surat Kabar Poetri Hindia Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *