Hi, sudah pernah mendengar tentang sejarah Poetri Hindia belum? Itu lho, surat kabar pertama khusus perempuan di Hindia Belanda yang berbahasa melayu. Surat kabar Poetri Hindia yang lahir di Betawi pada 1 Juli 1908 ini berbicara mengenai kepentingan perempuan khususnya perempuan pribumi.

Tulisan saya mengenai Surat Kabar Poetri Hindia berasal dari hasil penelitian skripsi sarjana saya dimulai akhir tahun 2009 dan selesai Februari 2011. Tulisannya cukup panjang untuk diposting dalam satu postingan. Oleh karena itu, akan dibagi menjadi beberapa bagian. Postingan ini merupakan bagian pertama, sesuai judulnya Surat Kabar Poetri Hindia Part 1, akan membahas mengenai latar belakang dibuatnya tulisan mengenai Poetri Hindia. 

Latar Belakang.

Surat Kabar Poetri Hindia, koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kaum pribumi pada akhir abad ke-19 sedang mengalami demam kemajuan dan berusaha untuk meraih kemajuan. Kemajuan dipahami sebagai peningkatan status seseorang baik secara individu maupun kelompok dalam bidang-bidang penting kehidupan seperti bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Adam, 2003: 136).

Munculnya kesadaran untuk meraih kemajuan di kalangan kaum pribumi dapat dilihat dari tema utama pemberitaan dalam pers pada masa peralihan abad ke-19 ke abad ke-20. Tema utama yang diangkat pers pada masa itu mengenai perlunya kaum pribumi mendapatkan pendidikan dan meraih kemajuan. Bentuk kesadaran untuk meraih kemajuan dan mendapatkan pendidikan di kalangan kaum pribumi juga dapat dilihat dengan munculnya pers milik pribumi, sejumlah percetakan pribumi, bangkitnya para editor pribumi, dan munculnya organisasi-organisasi sosial ekonomi yang dikelola dan dijalankan oleh pribumi (Adam, 2003: 183).

Perkembangan usaha meraih kemajuan dan pendidikan dalam dunia pers ternyata dianggap tidak menyeluruh oleh sebagian tokoh terpelajar seperti Raden Mas Tirto Adi Soerjo. Ia menganggap bahwa kemajuan kaum pribumi pada masa itu masih terbatas pada kaum pria saja, sedangkan kemajuan kaum pribumi tidak bisa diraih hanya dengan memajukan kaum pria. Kaum perempuan pribumi juga harus turut serta memperjuangkan kemajuan. Namun, pada masa itu kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi kaum perempuan masih sangat terbatas (Magdalena, 2002: 26). Oleh karena itu, diperlukan suatu cara yang efektif untuk memajukan kaum perempuan pribumi. Hal ini dipahami oleh Tirto dengan menerbitkan surat kabar khusus perempuan yang dikelola oleh kaum perempuan dan yang menjadi penulis adalah kaum perempuan itu sendiri.

Munculnya ide untuk membuat surat kabar atau majalah khusus perempuan karena pada saat itu pers dianggap sebagai media yang dapat dengan cepat menyampaikan suatu gagasan kepada sekelompok orang dalam jumlah yang besar. Pada 1 Juli 1908 berdiri Poetri Hindia sebagai surat kabar pertama khusus perempuan di Hindia Belanda yang berbahasa Melayu dan berbicara mengenai kepentingan perempuan khususnya perempuan pribumi. Dalam materi pemberitaannya Poetri Hindia memuat hal-hal yang bertujuan untuk memajukan kaum perempuan dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan seperti menekankan pentingnya pendidikan untuk perempuan, dan keterampilan perempuan (Adam, 2003: 191). Surat kabar ini mengusung penyebaran gagasan atau ide untuk memajukan kaum perempuan, cara apa yang dapat dilakukan perempuan untuk meningkatkan statusnya dalam bidang-bidang penting kehidupan.

Topik mengenai surat kabar Poetri Hindia menarik untuk dibahas karena Poetri Hindia merupakan surat kabar pertama khusus perempuan yang terbit di Hindia Belanda dan menggunakan Bahasa Melayu. Penggunaan Bahasa Melayu dalam surat kabar Poetri Hindia khususnya dan pers pribumi umumnya memiliki arti penting bagi kemajuan kaum perempuan pribumi karena Bahasa Melayu bisa dimengerti sebagian besar penduduk Hindia Belanda dan sudah digunakan sebagai bahasa pergaulan selama berabad-abad (Lombard, 2008: 95). Hal ini dianggap sebagai cara paling efektif dalam usaha memajukan kaum perempuan pribumi. Selain itu, Poetri Hindia juga pernah mendapatkan penghargaan berupa hadiah uang dari Permaisuri Emma karena ide kemajuan bagi kaum perempuan yang diusung dan usaha-usahanya untuk memajukan kaum perempuan di Hindia Belanda melalui pendidikan dan keterampilan bagi kaum peremuan (Adam, 2003: 120; Toer, 2003: 115).

Poetri Hindia sebagai surat kabar khusus perempuan pertama memiliki arti penting dalam kajian sejarah perempuan pada masa kolonial untuk melihat bagaimana upaya-upaya memajukan kaum perempuan melalui pers pada masa itu. Masa ini oleh para penulis pada kemudian hari dikenal dengan jargon awal mula sejarah perjuangan emansipasi perempuan Indonesia (Magdalena, 2002: 30).

Hasil penelusuran penulis pada tahun 2009 belum pernah ada yang membahas surat kabar Poetri Hindia sebagai suatu kajian sejarah berupa skripsi atau pun buku. Namun, terdapat beberapa karya yang menyinggung sepintas mengenai Poetri Hindia. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di bagian tinjauan pustaka.

Untuk memudahkan penelitian, penulis membatasi ruang lingkup kajian, dengan memfokuskan kajian pada upaya-upaya memajukan kaum perempuan melalui pemberitaan dalam surat kabar Poetri Hindia. Kemudian pemilihan lingkup temporal dibatasi dari 1908 hingga 1911 dengan alasan bahwa 1908 adalah awal terbitnya Poetri Hindia, sedangkan pada 1911 mulai terjadinya krisis finansial pada perusahaan Medan Prijaji yang menaungi Poetri Hindia.

Krisis finansial pada perusahaan Medan Prijaji tentu membawa Poetri Hindia pada kemunduran. Hal ini bermula ketika pada Maret 1910 Tirto diasingkan ke Teluk Betung, Lampung selama dua bulan karena kasus pencemaran nama baik A. Simon di Medan Prijaji pada 1909 (Adam, 2003: 200). Pengasingan Tirto ke Teluk Betung membawa dampak pada menurunnya antusias kaum perempuan menulis dalam surat kabar Poetri Hindia. Kondisi itu menjadikan tulisan-tulisan dalam Poetri Hindia didominasi kaum pria dan kutipan dari surat kabar atau majalah lain (Toer, 2003: 116; Poetri Hindia no. 19, 20, 21, 24, Th. 1910). Hal ini tentu saja dianggap bertentangan dengan tujuan awal diterbitkannya Poetri Hindia yaitu surat kabar khusus perempuan yang dikelola oleh kaum perempuan dan yang menjadi penulis adalah kaum perempuan itu sendiri.

Rumusan Masalah

Dengan latar belakang masalah di atas penulis merumuskan permasalahan utama dalam tulisan ini adalah bagaimana upaya-upaya yang dilakukan Poetri Hindia untuk memajukan kaum perempuan pribumi dalam pemberitaannya? Dari permasalahan utama di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang menarik untuk dibahas, yaitu:

  1. Bagaiman proses muncul dan berdirinya surat kabar Poetri Hindia?
  2. Bagaimana materi berita yang disajikan dalam pemberitaan surat kabar Poetri Hindia ?
  3. Bagaimana respons masyarakat khususnya perempuan pribumi terhadap pemberitaan kemajuan kaum perempuan dalam surat kabar Poetri Hindia?

 

Tinjauan Pustaka

Sejauh pengamatan penulis saat memilih topik tulisan ini pada tahun 2009. Kajian khusus yang mengkaji surat kabar Poetri Hindia yang dipublikasikan belum pernah ada. Namun, terdapat beberapa karya dan buku yang kajiannya memiliki keterkaitan cukup dekat dengan surat kabar Poetri Hindia. Beberapa karya ini secara umum membahas mengenai media pers dan kehidupan perempuan.

Karya pertama adalah buku berjudul berjudul Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913 (2003) karya Ahmad Adam. Buku ini mengkaji sejarah perkembangan pers dan bangkitnya kesadaran nasionalisme Indonesia di kalangan pribumi di Hindia Belanda. Selain itu, buku ini lebih menekankan kajiannya mengenai fungsi pers sebagai wadah bangkitnya kesadaran persatuan dan kebangsaan. Bahasan mengenai pers perempuan tidak termasuk dalam bahasan buku ini secara menyeluruh, hanya disinggung sedikit mengenai Poetri Hindia. Buku ini berkaitan dengan pembahasan mengenai situasi pers di Hindia Belanda menjelang terbitnya surat kabar Poetri Hindia.

Buku kedua yang berkaitan dengan surat kabar Poetri Hindia adalah buku Mirjam Maters yang berjudul Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras, Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan, 1906-1942 (2003). Buku ini membahas mengenai bagaimana pemerintah Hindia Belanda menangani transparansi dan penerapan kebebasan pers sebagai hak asasi, serta bagaimana peranan pers dalam situasi kolonial. Pembahasan buku ini belum menyentuh upaya-upaya memajukan kaum perempuan dalam surat kabar Poetri Hindia tetapi, membahas mengenai masa ketika Poetri Hindia terbit. Permasalahan yang diteliti Mirjam Maters dalam buku Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras, Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan, 1906-1942 yang berkaitan dengan Poetri Hindia adalah masalah pers Indonesia sebelum awal abad ke-20 yang berkaitan dengan pembahasan mengenai kehidupan pers dan perempuan pada awal abad ke-20.

Pustaka berikutnya adalah buku karya Abdurrachman Surjomihardjo dkk berjudul Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (2002). Buku ini membahas mengenai sejarah perkembangan pers Indonesia dari mulai pers berbahasa Belanda, Melayu Tionghoa, dan Indonesia hingga sejarah pembredelan pers zaman pemerintahan Orde Baru. Buku Abdurrachman Surjomihardjo ini tidak membahas mengenai pers perempuan dan surat kabar Poetri Hindia secara khusus. Namun, secara umum buku ini memberikan gambaran sejarah pers pada masa Poetri Hindia terbit di Indonesia yang berkaitan dengan pembahasan mengenai situasi pers menjelang lahirnya surat kabar Poetri Hindia.

Buku selanjutnya berjudul Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda (2007) karya Tineke HellwigBuku ini membahas bagaimana perempuan dicitrakan oleh lingkungan sekitarnya, keluarga dan masyarakat, serta pemerintah kolonial. Buku ini berisi penilaian terhadap perempuan dari sudut pandang pihak lain yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah Hindia Belanda, tidak membahas pers perempuan dalam kerangka kemajuan bagi kaum perempuan. Buku ini berkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana kehidupan perempuan pada awal abad ke-20 sebelum adanya pers perempuan yang berbicara mengenai kepentingan perempuan.

Berikutnya adalah buku berjudul Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan dan Pencapaian (2008) karya Cora Vreede-De Stuers. Buku ini membahas sejarah pergerakan kaum perempuan di Indonesia. Pergerakan perempuan di Indonesia menurut Stuers sangat unik karena dilatarbelakangi sistem sosial dan tradisi yang berbeda, sehingga melahirkan gerakan yang berbeda. Stuers membahas sejarah perempuan dari beberapa periode, mulai dari masa kolonial sampai pada masa setelah kemerdekaan. Stuers melihat pergerakan perempuan di Indonesia dari kerangka emansipasi perempuan. Buku ini berkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana kehidupan kaum perempuan sebelum terbitnya surat kabar Poetri Hindia.

Berdasarkan kelima buku tersebut, tidak ada satu pun yang membahas secara mendalam mengenai surat kabar perempuan, khususnya mengenai pemberitaan kemajuan bagi kaum perempuan dalam surat kabar Poetri Hindia. Oleh karena itu, penulis akan membahas bagaimana pemberitaan Poetri Hindia mengenai kemajuan perempuan, ditelusuri dari pemberitaan yang muncul dalam surat kabar tersebut dan bagaimana respons pembaca terhadap pemberitaan tersebut.

bersambung ke Surat Kabar Poetri Hindia Part 2

 

Sumber Buku:

Adam, Ahmat. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913. Jakarta: Hasta Mitra.

Hellwig, Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa: Silang Budaya; Batas-batas Pembaratan Jilid I (Judul asli: Le Carrefour Javanais; Essai d’histoire Globale; I. Le Limited de l’occidentalisation). Jakarta: Gramedia.

Magdalena, Sondang Maria. 2002. Pers Perempuan Masa Hindia Belanda sebagai Salah Satu Wadah Perjuangan Perempuan Indonesia (1908-1942). Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Maters, Mirjam. 2003. Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras, Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan 1906-1942. Jakarta: Hasta Mitra.

Steurs, Cora Vreede-De. 2008. Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu.

Surjomihardjo, Abdurrachman dkk. 2002. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. cet kedua. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. cet.2. Sang Pemula. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.

Sumber Surat Kabar:

Djoemantan. “Poetri Hindia, di lahirkan di Betawi 1 Juli 1908”. Poetri Hindia no. 1, Th. 1909.

News Reporter

2 thoughts on “Surat Kabar Poetri Hindia Part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *