Seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada Surat Kabar Poetri Hindia Part 2, terbitnya surat kabar Poetri Hindia, tidak terlepas dari peranan Tirto Adhi Soerjo. Tirto memiliki pemikiran bahwa kebangkitan elite pribumi tidak cukup hanya dengan kaum pria terpelajar sebagai sasaran. Kaum perempuan harus ikut berjuang untuk kebangkitan elite pribumi (Adam, 2003: 191). Melalui media surat kabar usaha-usaha memajukan pribumi khususnya kaum perempuan dapat dilakukan dengan efektif.

Terbitnya Surat Kabar Poetri Hindia

Keinginan Tirto menerbitkan sebuah surat kabar perempuan telah ada sejak ia bekerja menjadi editor di Pemberitaan Betawi pada tahun 1903. Menurut Tirto, pada saat itu tidak ada majalah atau surat kabar yang cocok untuk kaum perempuan. Oleh karena itu, ia berkeinginan menerbitkan surat kabar khusus perempuan. Tirto menuturkan keinginannya tersebut dalam sebuah tulisan berjudul “Kemadjoean Perempoean Boemipoetra” yang diterbitkan di Pemberitaan Betawi no. 10 tanggal 14 Januari 1903. Dalam tulisan itu Tirto menyebutkan beberapa tokoh perempuan yang telah memulai kemajuan seperti Raden Ayu Lasminingrat[1], Raden Ajeng Kartini, Raden Ajeng Rukmini, Nyonya Retnaningsih, dan Nyonya Retnaningrum (Toer, 2003: 111).

Menurut Tirto, Lasminingrat adalah perempuan pribumi pertama yang berkecimpung dalam dunia sastra dan telah mengarang dua buah buku dalam Bahasa Sunda. Ia seorang perempuan dari Pasundan dan istri dari Kanjeng Adipati Garut[2] (Moriyama, 2005: 243-246). Tirto juga menyatakan bahwa Kartini dan Rukmini merupakan generasi kedua setelah Lasminingrat yang mengikuti jejak langkah Lasminingrat menulis dalam Bahasa Belanda di berbagai berkala bulanan di Negeri Belanda.

pengetahuan kedua putri raja ini tidak menyemaikan bibit yang bermanfaat bagi saudara-saudara mereka di Hindia Belanda, karena mereka masih terlalu muda dan kurang matang dalam kesadaran mereka untuk menyebarkan pengetahuan mereka di kalangan kita, orang-orang pribumi” (Pemberitaan Betawi no. 10, Th. 1903).

Dalam artikel tersebut diterangkan bahwa tulisan-tulisan Kartini dan Rukmini tidak memiliki andil terhadap perjuangan kemajuan kaum perempuan di Hindia Belanda. Oleh karena dua bersaudara ini belum memiliki kesadaran untuk memajukan dan menyebarkan pengetahuan mereka di kalangan orang-orang pribumi.

Pendapat Tirto mengenai tidak ada majalah atau surat kabar yang cocok untuk kaum perempuan sejalan dengan pendapat Mastiah yang menuangkan pendapatnya dalam tulisan (surat pembaca) yang dimuat di Poetri Hindia no. 2 edisi 31 Januari 1909. Lebih lanjut mengenai artikel ini akan dibahas di bab selanjutnya.

Kurangnya pengetahuan dan tradisi yang menganggap perempuan lebih rendah daripada pria membuat kaum perempuan jengah menulis di surat kabar umum yang biasanya hanya memuat tulisan dari kaum pria, sedangkan fungsi pers sebagai alat memajukan bangsa sangat penting untuk alat penyebaran ide dan gagasan kemajuan agar menjangkau seluruh lapisan baik perempuan maupun pria. Mungkin kondisi inilah yang disadari Tirto sehingga pada akhirnya ia semakin mantap untuk menerbitkan surat kabar khusus perempuan.

Keinginan Tirto menerbitkan surat kabar khusus perempuan baru terealisasi lima tahun kemudian yaitu pada pada tahun 1908, satu tahun setelah ia menerbitkan mingguan Medan Prijaji. Dengan dukungan moral dari Raden Toemenggoeng Tirto Koesoemo[3] keinginannya itu pun terwujud.

Poetri Hindia – dapat dipastikan – terbit pertama kali pada tahun 1908. Menurut Adam (2003: 191), Tirto meluncurkan Poetri Hindia pada Juni 1908, sedangkan menurut Pramoedya Anata Toer, nomor pertama Poetri Hindia terbit di Betawi pada 1 Juli 1908 (Toer, 2003: 108). Sejalan dengan pernyataan Pramoedya Ananta Toer terdapat tulisan dari pembaca sekaligus penulis di surat kabar Poetri Hindia yang bernama Djoemantan bin Anang Atjil. Ia adalah seorang murid sekolah perempuan di Barabai Afdeeling Kendangan Borneo, tulisannya dimuat pada Poetri Hindia no. 1 tanggal 15 Januari 1909.

Poetri Hindia, di lahirkan di Betawi 1 Juli 1908

Satelah hamba berdjabat tangan dengan kekasihkoe itoe, dan seketika lamanja hamba doedoek bertjakap’tjakap dengan dia, maka bermeterilah dikalboe hamba jang gelap sehingga mendjadi terang; sebab pengadjarannja jang amat memberi fa’idah kepada hamba; hamba peroleh lah dari padanja berbagai’bagai iloem pengadjaran dan pengetahoean jang tiada ternilaikan harganja.

Soenggoehpoen P.H. ini baharoe beroesia beloem setahoen djagoeng, dan darahnja peon beloem setempeok pinang, tetapi oleh sebab dengan keradjinan dan oesaha ajah bondanja bangsawan bangsawan jang memangkoe dan memelihara serta menghiasi dia dengan berbagai soenting goebahan boengan jang elok-elok sehingga baoenja jang haroem itoepoen semerbaklah kemana mana jang mendjadjikan tsehat dan senang bagai siapa jang mentjioem, dan beramah’ramahan bertjinta kasih sajang kepadanja; sehingga dapatlah ia mengoendjoengi tsahabat kenalannja dalam seboelan 2 kali akan membawa berbagai chabar jang indah’indah, dan sebagainja. Seperti hamba soedah taoe, jang ini P.H. ialah soeatoe Taman Pengetahoean jang amat besar goenanja akan djadi haloean dan pemimpin bagi kita perempoean, jang hendak menambah kepandaiannja dan meloeaskan pengetahoeannja.

Selamat kiranja Poetri Hindia

Serta pengarang ‘arif belia;

Moega moega kiranja dipandjang oesia,

Masjhoerlah namanja koeliling doenia

Sekalian saudarakoe moeda Kesoema,

Marilah kita bersam-sama;

Mengoetjapkan selamet Poetri Oetama,

Tempat kita bertjengkerama

Soerat kabar bernama Poetri.

Goenanja besar tiada tarperi;

Pemimpin sekalian ‘arif djauhari,

Ke Taman Pengetahoean mengoedji diri.

Ooetri Hindia jang elok tsifat,

Di dalamnja banjak, ilmoe terdapat;

Mengoendjoengi pembatjanja terlaloe tjepat,

Kian kemari berganda lipat.

Berpoetar kalam hamba katakan.

Kepada Redactrice hamba oetjapkan;

Serta Administratie jang menerbitkan.

Kapal berlajar djaoeh di sebrang,

Memoenggah moeatan dari Petani:

Hamba ta’ pandai karang mengarang,

Haraplah pembatja peon mengampoeni.

Memoenggah moeatan dari Petani,

Balam menari tengah laoetan;

Haraplah pembatja poen mengampeoni,

Samboetlah salam hamba…. (Poetri Hindia no. 1, Th. 1909).

Dari tulisan tersebut terdapat keterangan bahwa Poetri Hindia terbit pertama kali di Betawi pada 1 Juli 1908 dan terbit dua kali dalam sebulan. Terbitnya Poetri Hindia diharapkan dapat memberikan banyak manfaat karena memberikan informasi dan pengetahuan yang sangat berguna bagi para pembacanya. Hal ini menurut Djoemantan, tidak terlepas dari peran penting jajaran redaksi dan pengurus Poetri Hindia yang menyajikan pemberitaan dengan baik, beragam, dan memberikan banyak manfaat, sehingga Poetri Hindia dianggap sebagai sarana pengetahuan dan tuntunan yang diikuti perempuan yang ingin menambah keterampilan dan memperluas pengetahuan.

Selain keterangan yang terdapat dalam artikel di atas mengenai terbit dan sasaran pembaca surat kabar ini, terdapat keterangan pada halaman muka surat kabar ini mengenai pengelompokannya ke dalam kelompok surat kabar. Keterangan tersebut berbunyi “soerat kabar dan advertentie boeat istri Hindia” (Poetri Hindia no. 1, Th. 1909). Kalimat tersebut berarti pihak redaksi Poetri Hindia memperlihatkan bahwa Poetri Hindia adalah sebuah surat kabar yang target pembacanya adalah kaum perempuan di Hindia dan surat kabar ini juga menerima pemasangan iklan komersial.

Selanjutnya masih pada halaman muka setiap penerbitan Poetri Hindia tahun 1909, terdapat keterangan bahwa surat kabar Poetri Hindia ini berada di bawah pimpinan R.T.A Tirtokoesoemo, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, dan R.S.T. Amidjojo. Bentuk susunan kepemimpinan tersebut terkait dengan usaha Tirto dalam mencari dukungan materi dan non-materi dari para priyayi atas. Dukungan modal dari priyayi di atas timbal baliknya tercantum nama-nama priyayi tersebut dalam jajaran pimpinan redaksi Poetri Hindia (Adam, 2003: 191; Toer, 2003: 108; Poetri Hindia, 1909). Hal ini tentu menguntungkan kedua belah pihak.

Tirto juga menjelaskan bahwa pada awal diterbitkannya Poetri Hindia, ia sulit menemukan perempuan yang pandai menulis dan bisa dijadikan pemimpin redaksi. Oleh karena itu, setiap kali Tirto mendengar terdapat perempuan terpelajar ia selalu mengirimkan surat kepada perempuan tersebut, kemudian memintanya menulis di surat kabar Poetri Hindia. Apabila perempuan terpelajar tersebut bersedia maka namanya dicantumkan seperti penulis – masuk dalam daftar anggota redaksi – dalam surat kabar itu. Menurut Tirto aturan itu memang tidak layak tetapi, ia tetap menjalankannya karena terdesak keadaan. Tirto juga menambahkan bahwa pada masa awal terbitnya Poetri Hindia ia masih ragu-ragu apakah surat kabar Poetri Hindia ini akan bisa terus terbit di bawah gerakan kaum perempuan pribumi (Poetri Hindia no. 1, Th. Januari 1911).

Dengan kondisi seperti itu, Tirto merasa kesulitan dalam menentukan siapa perempuan yang layak untuk dijadikan pemimpin redaksi Poetri Hindia. Hal inilah menjadi penyebab bagaimana susunan kepengurusan redaksi seperti terlihat berikut ini.

Hoofdredactrices:

Laura Staal, T. Sereal Bogor Verantwoordelijk.

Raden Ajoe Tjokro Adi Koesoemo geb Vischer Tjiandjoer.

Raden Adjeng Soehito Tirtokoesoemo, Hfd Onderwijzires Inl Meisjeschool Karang Anjar.

Raden Adjeng Fatimah, Gymn. Mr. Cornilis.

Raden Ajoe Siti Habiba, T. Sereal Buitenzorg

S.N. Noerhar Salim Part. Owd. K Gedang F de Kock.

Raden Ajoe Mangkoedimedjo, Djokjakarta.

Redactrices:

Mas Loro Hasiah Rogoatmodjo, Kweekelinge K.A.

Raden Sitna Mariana, Serdang, Tjilegon.

Raden Aroem goeroe pakerdjaan tangan sekolahan perampoean Buitenzorg.

Raden Ajoe Soetanandika, Tjiiamis.

Raden Ajoe Pringgowinoto, Rembang.

Princes Fatima, Batjan.

Raden Ajoe Tirtoadiwinoto, Ponorogo.

Raden Ajoe Arsad, Batavia (Poetri Hindia no. 1, Th. 1909).

Pada tulisan tersebut terlihat bahwa susunan kepengurusan redaksi Poetri Hindia masih belum terorganisir dengan baik. Susunan redaksi Poetri Hindia  ini berlangsung sampai akhir tahun 1910. Lebih jauh mengenai hal ini akan dibahas pada bab selanjutnya

Seperti yang sudah disinggung di depan Poetri Hindia diterbitkan satu bulan dua kali, oleh perusahaan Naamlooze Vennootschap Jav Boek en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji. Alamat redaksi Poetri Hindia pada awalnya terdapat di Buitenzorg, sedangkan alamat administrasinya di Batavia (Poetri Hindia, 1909). Namun, seiring dengan terjadinya pergantian pengurus redaksi alamat redaksi Poetri Hindia juga mengalami perubahan.

Pada akhir tahun 1909 Poetri Hindia juga mempunyai perwakilan di Belanda yang dipegang oleh J.J. Meijer, mantan asisten residen di Jawa (Toer, 2003:108). Harga langganannya f 4 untuk satu tahun, dengan sistem paling sedikit f 1 untuk 3 bulan dibayar dimuka. Seperti yang sudah disinggung di depan Poetri Hindia juga menerima pemasangan iklan, harga pemasangan iklan harganya disesuaikan dengan kesepakatan antara pemasang iklan dengan pengurus administrasi Poetri Hindia di Batavia (Poetri Hindia no 1, 2, Th. 1909).

Dalam segi bahasa, surat kabar Poetri Hindia menggunakan Bahasa Melayu lingua-franca, bukan Bahasa Melayu sekolahan seperti yang dianjurkan pemerintah. Laura Staal pernah menyinggung masalah penggunaan bahasa pada Poetri Hindia pada tulisannya yang berjudul “Perloekah Poetri Pake Logat Ophuizen” terbit di Poetri Hindia no. 3 tanggal 15 Februari 1909. Laura Staal bekata dengan tegas bahwa ia menolak anjuran pemerintah agar Poetri Hindia menggunakan Bahasa Melayu sekolah. Terkecuali dengan syarat pemerintah mendukung Poetri Hindia dengan membantu pendistribusian Poetri Hindia di sekolah-sekolah dan mewajibkan sekolah-sekolah berlangganan Poetri Hindia.

Sepertinya persyaratan yang diminta oleh Laura Staal tidak dipenuhi pemerintah kolonial, untuk itu Poetri Hindia tetap menggunakan Bahasa Melayu pasar dalam penerbitannya (Poetri Hindia, Th. 1909). Walaupun demikian, Poetri Hindia menerima kiriman tulisan dalam berbagai bahasa, seperti Bahasa Jawa, Sunda, Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris. Penulis yang kiriman tulisannya dimuat mendapat honor setiap 6 bulan sekali. Honornya tergantung dengan panjang tulisan dan penting tidaknya tulisan tersebut menurut pandangan redaksi. Menurut Pramoedya Anata Toer (2003: 111) kesediaan Poetri Hindia menerima kiriman tulisan dari bermacam bahasa menjadi salah satu keistimewaan Poetri Hindia. Selain itu Poetri Hindia juga menampilkan rublik Bahasa Belanda[4] dalam setiap terbitannya untuk kepentingan para pembaca belajar Bahasa Belanda.

 

Footnote:

[1] Raden Ayu Lasminingrat lahir di Garut pada tahun 1843. Ia merupakan perempuan pribumi pertama yang menulis buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah (Moriyama, 2005: 243-246)

[2]Raden Adipati Aria Wiratanudatar VIII adalah Bupati Limbangan terakhir dan Bupati Garut pertama (Moriyama, 2005: 244).

[3] Tirto Koesoemo adalah seorang Bupati dari daerah Karanganyar, ia juga tercatat menjabat sebagai ketua Boedi Oetomo pada tahun 1908 (Poetri Hindia no. 1, Th. 1909).

[4] Pada masa itu Bahasa Belanda dianggap sebagai bahasa Ilmu pengetahuan sehingga kedudukan Bahasa Belanda sangat penting dalam dunia pendidikan. Seseorang yang mempunyai kemampuan Bahasa Belanda yang baik dianggap sebagai orang terpelajar (Poetri Hindia, 1909).

Sumber Buku:

Adam, Ahmat. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913. Jakarta: Hasta Mitra.

Moriyama, Mikihiro. 2003. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. cet.2. Sang Pemula. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.

Sumber Artikel dalam Surat Kabar:

Djoemantan. “Poetri Hindia, di lahirkan di Betawi 1 Juli 1908”. Poetri Hindia no. 1, Th. 1909.

Soerjo, Tirto Adhi.Kemadjoean Perempoean Boemipoetra”. Pemberita Betawi no. 10, Th. 1903.

Staal, Laura. “Perloekah Poetri Pake Logat Ophuizen”. Poetri Hindia no. 3, Th. 1909.

 

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *