Film Pihu menggambarkan tak semua orang layak menjadi orang tua. Tak semua laki-laki layak menjadi suami dan ayah bagi anaknya. Tak semua perempuan layak menjadi ibu. Tak semua orang layak menikah dan memiliki anak. Sebab ada sebagaian orang lebih mengutamakan ego nya masing-masing diatas hak anak dan istrinya, diatas perasaan orang-orang terdekatnya.

Film ini bercerita tentang Pihu, seorang gadis cilik yang baru saja merayakan ulang tahun nya yang ke-2. Pihu tidak akan terjebak dalam kesendirian di apartemen tempatnya tinggal yang sudah hampir hangus terbakar dan kebanjiran. Jika Poojaa masih sehat jiwa dan raganya.

Pooja, ibu kandung Pihu tidak akan depresi, memilih bunuh diri dan meninggalkan Pihu tanpa pengawasan di rumah yang dipenuhi barang-barang berbahaya untuk anak-anak. Jika suaminya, Gaurav lebih peka dan menjalankan kewajibannya sebagai suami. Alih-alih menjalankan perannya sebagai suami, Gaurav malah terus menekan istrinya, bertingkah dan berbicara yang menyakiti hati istrinya, hingga Pooja depresi dan bunuh diri.

Pesan yang ingin disampaikan di film ini benar-benar dalam. Bagaimana sikap laki-laki yang egois, tidak layak menjadi sosok suami dan Ayah. Bagaimana sikap perempuan yang depresi dan mengatasi masalahnya dengan cara pintas, bunuh diri. Bagaimana sikap seorang anak kecil mengatasi masalahnya dengan optimis.

Bagi orang dewasa bukan masalah besar menghadapi alat setrikaan yang masih menyala, tersambung ke steker listrik, keran air yang terbuka, kompor yang menyala, botol-botol kaca di atas lemari pendingin, pembersih lantai berwarna putih seperti susu, mengambil boneka yang jatuh dari balkon apartemen. Namun, bagi anak-anak seusia Pihu tanpa pengawasan orang tua, semua itu bisa sangat membahayakan. Dengan kepolosan dan optimisme nya Pihu mengatasi rasa haus, lapar, ketakutan, kesepian, dan kehilangan boneka kesayangannya.

Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul apabila kita benar-benar menyelami pesan setelah menonton film ini. Apakah kita layak menjadi orangtua? Sudahkah kita menjadi orang tua yang amanah dan bertanggung jawab pada anak-anak kita?

Apakah kita layak menjadi seorang suami? Sudahkan kita menjadi suami yang memahami perasaan istrinya dan bertanggung jawab? Ataukah kita masih jadi suami yang egois, sering mengabaikan jeritan hati dan menyakiti perasaan istri hingga ia depresi?

Apakah kita layak menjadi seorang ibu? Sudahkah kita memikirkan konsekuensi dari keputusan kita meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan? Sudahkah kita sebagai ibu bertanggung jawab bagi keselamatan anak-anak kita?

Sourch: https://www.youtube.com/watch?v=zhWLhuEhXm4

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *